31 Tahun Bali Mula Desa Trunyan

Di Bali ada sebuah desa yang bernama trunyan, desa yang terletak di Kitamani kabupaten bangli dimana akses menuju kesana adalah menyebrangi Danau Batur dari Toya Bungkah yang bisa di tempuh sekitar 45 menit dengan boat tradisional. Selain itu ada akses cukup baru untuk menuju Desa tersebut yaitu dengan jalur darat melalui desa kedisan kintamani.

Walaupun jalannya kecil dan cukup terjal dengan jantakan dan belokan namun dijamani perjalanan anda menuju jalur darat akan lebih menantang. Saran bagi anda yang belum mahir berkendara lebih baik mengurungkan niat anda.

Desa trunyan dulunya sangat terpencil dan terisolasi karena letak wilayahnya yang cukup sulit untuk dijangkau. Dulu desa ini sempat menjadi favorit bagi wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara. Banyak Travel Agent sempat menjadikan Trunyan sebuah destinasi wisata yang unik untuk dijual. Namun nyatanya masyarakat disana masih belum siap menerima wisatawan sehingga sering kali wisatawan merasakan ketidaknyamanan.

Saya sih tidak perlu menulis semua masalah yang sudah lewat, dan Trunyan sudah mulai berbenah. Disini saya hanya berbagi pengalaman saat  #melali (jalan-jalan) yang digagas oleh @balebengong bersama @klikhati dan @baliblogger dan lucu sekali, dalam hati saya selalu tersenyum sambil membayangkan gimana dulu saat menjual tour ke trunyan ini sebenarnya saya ga pernah kesana. Setalh berumur 31 baru tahu secara langsung Desa Trunyan

Beberapa yang masih  saya ingat dari keunikan d Desa Trunyan

1. Asal Mula Nama Desa Trunyan.

  • Menurut salah satu warga yang mengatarkan kami mengatakan Trunyan berasal dari kata Taru = Sebuah Pohon dan Menyan = Bau Menyan ( wewangian yang biasa di pakai dupa & alat sembahyang umat hindu di bali.

2. Kuburan Unik

  • Setiap warga desa trunyan tidak ada yang dikubur namun cuma di taruh namun tidak menimbulkan bau yang disebabkan oleh sebuah pohon Taru dengan bau menyan yang menjadi asal usul nama desa Trunyan.
  • Desa trunyan memiliki 3 kuburan ( Seme ) berbeda diantaranya :

* Kuburan wayah ( Seme Wayah )dimana diperuntukan bagi warga desa yang sudah berkeluarga atau sudah tua.

* Kuburan Rare ( Seme Muda ) hanya khusus bagi bayi, atau sudah dewasa tapi belum menikah

* Kuburan Salah Pati ( Seme Bantas ) ini bagi warga desa yang meninggal karena tidak baik seperti kecelakaan, bunuh diri.

3. Warga Trunyan juga menyebut dirinya Bali Mula / Bali Aga ( Bali saat belum adanya konsep agama hindu )

Untuk mencapai kuburan wayah kita bisa menjangkau dari desa trunyan dengan naik boat sekitar 5 menit perjalanan. Mata pencaharian utama dari masyarakat desa Trunyan adalah bertani bawang.

Sebelumnya masyarakat desa trunyan tdak pernah berani menata kuburan ini karena mereka takut akan terjadi dengan hal-hal yang tidak diingikan, namun saat ada program abri masuk desa perlahan seme wayah ini mulai ditata. Tapi anda harus berhati-hati saat akan memasuki kawasankuburan tersebut.

Bisa saja anda tanpa sengaja menginjak sisa2 tulang yang ada di sekitar kuburan. Menurut salah satu pemandu dari warga setempat dulu pernah ada seorang tamu yang membawa koin kepeng yang merupakan bekal dari keluarga yang meninggal dibawa pulang oleh tamu itu.

Tapi akhirnya tamu itu kembali lagiuntuk mengembalikan ke keuburan karena sakit dan selalu dihantui rasa bersalah dan setelah dibuatkan banten ( upacara ) tamu iu bisa hidup normal kembali.

Hal itu meningatkan saya saat liburan ke tana Toraja yang memiliki kesamaan dalam memperlakukan orang yang sudah meninggal.

Kalo di sumatera ada tana toraja dan jangan lupa di Bali juga ada Desa Trunyan, yang wajib anda kunjungi :). Dan Thank’s buat balebengong, klik hati dan teman2 bali blogger yang sudah memberikan perjalanan yang baru di usia yang udah masuk 31 tahun 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *