Ayah… Tangan Kepal “TOLAK REKLAMASI “

Bali Tolak Reklamasi
Bali Tolak Reklamasi

Untuk seumuranya yang baru mau jalan 4 tahun dia tidak dipaksa utk diajak, diapun tidak pernah diarahkan, tapi dia sangat aktif bertanya tentang apa yang sedang ramai-ramainya. Sebagai orang tua tentu sudah menjadi tugas saya utk memberikan penjelasan sebagai bagian mengedukasi utk tahu apa yang sedang ramai dikeluhkan warga bali.

Jujur sangat sulit utk memberikan penjelasan untuk ukuran anak segini, beda tipis kalo kita melihat debat orang dewasa atau bahkan para pakar sekalipun. Katakanlah beberapa hal yang ditanyakan yang mungkin cukup sulit juga tapi kita menjelasakan dengan pemahaman yang bisa dia terima

Ayah apa itu pulau bali ? Apa itu rakyat bali ? kenapa harus pulau bali ? apa itu eskavator ?  apa itu macet ? apa itu reklamasi dan masih banyak pertanyaan yang dia tanyakan dan harus kita jelaskan tanpa harus memihak siapapun.

Anda bisa bayangkan serasa satu pertanyaan yang sudah kita coba jelaskan akan muncul pertanyaan baru didalam benaknya. Setelah hampir setahun yang lalu dia terus bertanya dan ingin tahu mungkin baginya sudah saatnya dia ikut dan mengambil sikap tanpa paksaan dari saya selaku orangtuanya.

Ini mulai ditunjukan saat acara Nawa Sanga akhir tahun lalu, terlihat dia sangat senang diwajahnya. Waktu acara itu saya mencoba bertanya kenapa kamu ikut disini nak ?, dengan polos dia menjawab ryu orang bali ayah “kasian pulau bali nanti dikeruk eskavator bisa tenggelam dan macet”.

Setelah acara itulah setiap hari dia hanya bernyanyi “Tolak Reklamasi” dan menonton video “Nawa Sanga” yang sengaja saya download dan simpan di HP. Mulai saat itulah  dia terus minta baju Tangan Kepal.

ntuk mendapatkan baju itu tentu tidak sulit, tapi saya cukup sulit mempermak baju itu krn tidak ada ukuran kecil, sayapun harus berkeliling ke tukang jahit agar baju yang diinginkan dengan catatan sablon tidak boleh hilang.

Hari ini saya kembali meninggalkan kantor sejenak tapi kali ini dia saya ajak krn dia sudah mempunyai pilihannya  untuk ikut bersama warga bali dalam aksi yang MENOLAK REKLAMASI TELUK BENOA, dalam perjalanan terus dia bernyanyi Tolak Reklamasi sambil mengepalkan tangan kirinya.

Bagi sebagian orang yang pasrah akan keadaan ini dan memilih untuk tidak ikut atau bahkan menganggap aksi ini tidak akan berhasil dan tetap akan jalan silahkan saja karena itu pilihanmu tapi bukan pilihanku, tapi jangan sekali kau campuri urusanku dalam mengedukasi anak ini karena dialah yang akan merasakan dampak dari reklamasi ini.

Jadi saat dia memilih berada di barisan warga yang menolak reklamasi teluk benoa ini, saya yakin sekali dia hanya berpikir  tentang masa depannya jika proyek ini diteruskan.