Bali Kites Festival XXXIII 2011

Festival Layang-Layang Bali yang sudah berlangsung sejak 1978 tahun ini adalah yang ke 33 tahun masih diselenggarakan di sisi barat Pantai Padang Galak, seperti festival sebelumnya tahun ini Persatuan Layang-Layang Indonesia (Pelangi) Bali kembali mengadakan kegiatan ini.

Festival kali ini sama dengan tahun sebelumnya tanpa peserta dari internasional tidak bisa mengikuti karena keterbatasan biaya, karena di setiap acara festival panitia harus menanggung akomodasi dari pelayang dari luar negeri.

Menurut Si Nyoman Adnyana selaku ketua II Bidang Perlombangan tahun ini Pelangi Bali berencana akan akan memberikan sebuah penghargaan bagi beberapa undangi (sebutan bagi tukang layangan ) yang dianggap sebagai pionir yang tetap konsisten menurunkan serta melestarikan tradisi serta berbagi ilmu dalam teknik membuat dan menerbangan layangan.

Si Nyoman Adnyana juga menambahkan Layangan Bali Tahun 2010 mendapat penghargaan The Best Tradisional Kites di festival layang internasional yang diadakan Perancis. Layangan Bali di kenal dengan 3 jenis tradisional antara lain :

* Bebean : Layangan yang menyimbulkan ikan sebagai sumber kemakmuran yang bersudut 10. hidup Ikan selalu tergantung pada air,sinar,tanah,Udara dan angkasa yang kesemuanya itu merupakan unsur Maha Butha..

* Pecukan : Layangan ini di kenal unik karena hanya 2 sisi dan perlu keahlian khusus dalam membuat dan menerbangkannya yang menyimbulkan Baik dan Buruk, siang dan malam dalam konsep Rwa Bhineda.

* Janggan : Sekor naga yang panjang ekornya mencapai 200 meter bahkan lebih simbol dari Naga Basuki dan Bedawang nala yang menjaga keseimbangan jagat semesta.

Disamping layangan tradisional tersebut bali juga mempunyai layangan kreasi. Dimana layangan ini merupakan bentuk kreasi dan kreatifitas dari para rare angon ( sebutan pelayang ) dan undanginya menciptakan kreasi dan membuktikan bahwa masyarakat Bali akan terus berkreasi dengan filosofi budaya dan agamanya.

Festival Layangan Tradisional Bali tahun ini juga tidak melombakan Sunari dan Pinjekan (baling-baling). Hal ini karena sudah mulai berkurangnya jumlah peserta lomba. Menyinggung tentang adanya beberapa keluhan masyarakat tentang beberapa peserta yang terkesan arogan dalam membawa layangan ke arena pertandingan.

Pak Nyoman Adnyana menambahkan, kami sudah sering menghimbau kepada seluruh peserta untuk tetap tertib demi kepentingan bersama, namum kembali lagi itulah hanya oknum tanpa bermaksud untuk menyinggung perasaan pengguna jalan lainnya.

Dan para undagi inipun sudah mulai menerapkannya layangan dengan sistem knock down (bongkar pasang ) jadi lebih efisisen dan tidak begitu membuat jalan macet. Ya kalo main layangan dan bawa layangan bikin macet sama aja kalo suporter bola toh juga bikin macet juga. Kembali ke diri sendiri harus instropeksi diri untuk semangat menyama braya.

 

2 thoughts on “Bali Kites Festival XXXIII 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *