Jadi Pelatih Tidak Gampang

Saat pertama kali dihubungi oleh Binpres PB. FORKI ( Pengurus Besar Federasi Olah Raga Karate Indonesia ) sensei Ardy Ganggas. Atlet Karate asal Bali masuk dalam skuad tim Pelatnas PRIMA ( PROGRAM INDONESIA EMAS ) Pratama. Itu adalah berita yang membuat perasaan ini bangga karena putra daerah Bali bisa berada di antara sekian banyak karateka di seluruh indonesia yang ingin berada di posisi tersebut.

Berita yang kedua yang juga tidak kalah membahagaikan karena atlet bali yang terpilih dalam pelatnas PRIMA Pratama adalah Gustiza Wisnu yang juga merupakan keluarga besar dari KKI ( Kushin Ryu M Karatedo Indonesia ).

Berita yang ketiga yang cukup membuatku tidak percaya adalah saat penunjukan calon pelatih dari beberapa kandidat yang ada. Saat awal pemilihan ini dengan segala argumentasi yang intinya bukan menolak tugas yang dberikan ini namun semata mengaca ke diri sendiri karena saya pikir masih ada yang layak untuk menjadi pelatih ini.

Dan alasan yang paling saya takutkan adalah aku tidak ingin hubunganku dengan kandidat lain akan renggang karena tugas ini. Karena biar bagaimana akupun mengakui secara kualitas aku masih belum ada apa-apanya dari yang lain, Dan secara stuktur organisasi inipun aku tahu kalo yang berwenang mengemban tugas ini adalah Binpres (Pembinaan dan Prestasi  ).

Setelah sempat dibahas oleh Ketua Dewan Guru, Ketua Majelis Sabuk Hitam, dan Ketua Harian diputuskanlah beberapa pertimbangan kenapa aku diberikan tugas ini.

Untuk melatih biasa mungkin lebih mudah, tapi tugas melatih atlet PRIMA pratama ini cukup berat bagiku selain kita harus belajar tentang ilmu keolahragaan, banyak hal yang harus aku pelajari lagi selain karate. Pelatih di Pelatnas PRIMA pratama juga dituntut harus mencatat dan melaporkan perkembangan atlet dari program latihan yang diberikan.