Kibarkan Merah Putih dari Bali

Mempertahankan memang jauh lebih sulit daripada merebut, Mengibarkan merah putih dan menjaga garuda di dada juga sebuah tugas yang sangat berat yang harus di emban oleh seorang karateka saat dia berlaga di pertandingan.

Satu hari sebelum keberangkatan ke medan perang ( pertandingan ) aku sempat dilanda deman, itu hanya sebuah bagian dari stress dimana otak sudah tidak mampu menahan beban. Hal ini memang pertama kali aku rasakan, saat masih jadi atlet tak pernah sekalipun pikiran dihinggapi rasa stress seperti ini, dan saat sekian kali aku membawa team Bali pun perasaan ini tidak seperti saat ini.

Memang tugas kali ini tidak biasa, karena selain membawa team bali salah satu atlet juga menyandang predikat atlet binaan pelatnas jangka panjang program prima pratama.

Ya status inilah yang membuat perjalanan pertandingan kali ini sedikit berbeda. Karena jika atlet yang aku latih selama 4 bulan ini tidak menjadi juara maka dia akan di coret dari program pelatnas prima pratama dan secara otomatis juga aku selaku pelatih akan diberhentikan.

” Kibarkan merah putih dari bali dan Jaga Garuda di dada” itulah kata-kata yang setiap latihan dan saat menunggu pertandingan dimulai aku tanamkan pada sang atlet ini. Dari kemampuan fisik dan teknik aku sudah yakin dengan atlet ini tapi teknik dan fisik ini akan tidak berfungsi saat semangat sudah menjauh.

Layaknya Api, sebagai seorang pelatih hanya bisa menyulut api itu di dalam dada, namun tanpa adanya semangat yang besar dari atlet api itu akan padam. Jadi besarkanlah api itu hingga tubuhmu tersa panas dan kau tumpahkan api itu di Tatami ( lapangan ) pertandingan untuk menjadi yang terbaik.

Selamat Gus… kamu sudah raih mimpimu.. kamu sudah amankan garuda selama 2 tahun dan jangan biarkan orang merebut garuda di dadamu tapi serahkanlah garuda itu saat umur sudah mengalahkanmu dan jadilah seorang juara sejati.