Ogoh-ogoh pelestarian budaya dan sarat akan pesan

ogoh ogoh tolak reklamasiBanyak versi terkait sejarah ogoh-ogoh yang dilaksanakan di bali satu hari menjelang hari raya Nyepi dikenal dgn”pengerupukan”. Ogoh-ogoh itu sendiri terus berkembang baik dari bentuk, cara pembuatan dan tentunya memudahkan generasi muda dalam menyampiakan pesan-pesan kepada khalayak melalui media ogoh-ogoh.

Tidak bisa dipungkiri banyak hal yang bisa didapat dari pelaksanaan tradisi ogoh-ogoh ini, dari segi ekonomi bisa dilihat perputaran uang yang beredar dalam kaitan pembuatan ogoh-ogoh dan pernak-pernik yang dibutuhkan. Tradisi ini juga secara tidak langsung membuat seniman-seniman baru untuk bisa tampil dgn karya-karya melalui media ogoh-ogoh ini.

Tradisi ogoh-ogoh ini juga secara tidak langsung membuat generasi muda untuk terus menggali sastra-sastra bali untuk sebuah referensi para seniman untuk dituangkan dalam karya seni mereka. Beberapa tahun belakangan ini pelaksanaan ogoh-ogoh  oleh masih-masing desa dibuatkan penilaian, dan satu hal yang paling menarik bagi saya adalah saat bukan sekedar ogoh-ogoh yang dibuatkan namun sinopis dimana disinilah akan terlihat makna. pesan serta tujuan seniman itu mengangkat ogoh-ogoh yang mereka buat.

Tahun ini kembali terus dikampanyekan  ogoh-ogoh ramah lingkungan, bahkan kriteria dalam penilaianpun tidak menggunakan styrofoam, setelah beberapa tahun sebelumnya sebagian masyarakat memilih menggunakan styrofoam yang dengan alasan lebih mudah namun sudah disadari banyak kekurangannya terutama untuk kesehatan dan lingkungan.

Nah.. untuk hal ini mungkin saya tidak termasuk didalamnya, sudah 3 tahun pelaksanaan ogoh-ogoh ini dimana karena tuntunan anak saya terpaksa memilih styrofoam sebagai bahan utama, ogoh ini udah dua tahun yang lalu dibuat dan disimpan namun tahun ini hanya dimodifikasi sesuai dengan permintaan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.