Rare Angon Sumber Kemacetan dan Arogan ???

1442365150121Hampir setiap tahun ungkapan kata  ini selalu menjadi perbincangan setiap orang terutama di BALI.  Benarkah Layang-Layang Tradisional Bali ini sumber kemacetan ? jawaban saya benar dan tidak. Tentu anda bingungkan?

Baik pertama kenapa saya bilang benar ? Apapun yang namanya kegiatan yang melibatkan orang banyak tentu akan menimbulkan kemacetan termasuk salah satunya lomba layang-layang, terutama kemacetan akan terjadi di lokasi atau jalur menuju kegiatan tersebut. Karena seluruh peserta lomba maupun masyarakat yang ingin menonton akan menuju tempat itu secara bersamaan sesuai jadual yang ditentukan. Dan itupula yang menjadi salah satu jawaban saya SALAH jika anda bilang Layang-layang itu sumber macet. Anda bisa buktikan hari disaat tidak ada  lomba pasti tetap akan macet tapi mungkin saja akan berkurang pada titik diadakannya lomba karena baik itu pelayang atau masyarakat tidak akan ke lokasi tersebut.

layang knockdown solusi anti macet
layang knockdown solusi anti macet

Saya tegaskan lagi SALAH jika rare angon bikin macet. Anda bisa katakan itu mungkin 5 atau 10 tahun yang lalu saat kakak, bapak atau bahkan kakek kami yang saat itu maen layangan hanya bisa membawa layangan non bongkar pasang, sudah hampir 4 tahun ini semakin banyak sekehe ( komunitas ) layangan di bali ini yang menganut layangan sistem bongkar pasang. Dan pernahkah anda yang selama ini menjadi salah satu orang yang menghujat tradisi budaya ini sadar apakah disaat tidak ada musim layangan khususnya di Denpasar ini bebas macet?.

Kalo jawaban saya sih Tidak, di Bali khususnya Denpasar setiap hari macet bukan karena layang-layang tapi karena jumlah kendaraan sudah melebihi kapasitas tampung dari jalan raya.

Oh ya.. sebelum saya lanjutkan mungkin ada dari anda yang belum tahu layangan bali itu apa ?? sebelumnya 2011 saya sudah pernah menulis anda bisa cek disini

Pelayang Bali AROGAN

Ya mungkin segelintir anak-anak muda yang pernah anda jumpai saat itu melakukan hal yang terlihat berlebihan saat dia mengawal layangannya. Tapi tentu kita tidak boleh menuduh semuanya Arogan 🙂

Saat layang yang dibawa itu model non bongkar pasang memang mereka bisa demikian tapi bukan karena arogan melainkan mereka tidak ingin layangan mereka rusak akibat tersenggol mobil atau pohon sebelum sampai di tempat lomba, jadi mereka cenderung lebih memilih mengatur agar dari arah yang berlawanan utk lebih memberikan jalan.

Tapi dengan berjalannya waktu saat mereka memiliki layangan yang bisa dibongkar bahkan bisa dibawa hanya dengan sepeda motor sekalipun tentu tidak ada alasan lagi utk mereka mengatur orang yang dilawan arah mereka.

Tapi khusus saya sendiri saat menoleh kebelakang lagi beberapa tahun yang lalu saat masih kecil digendong kakak ke banjar maupun ke tempat lomba tidak pernah merasakan ikut yang disebut AROGAN karena tetua kami saat itu selalu mengarahkan kami bahkan saya ingat sekali pesannya ” Luung Raga di Jalan pang man doa ne luung ajak ne lewat” (baca: Bagus, tertib dan sopan saat di jalan biar kita juga di doakan agar baik dan selamat sampai tujuan).

Tradisi maen layangan ini memang sudah ada sejak lama namun dari tahun ke tahun semakin banyak peserta bahkan selama musim itu banyak lomba yang diadakan. dan tahun ini bahkan beberapa panitia lomba layang-layang ini yang mewajibkan atau memberikan penilain plus jika layangan yang dilombakan itu memakai sistem knockdown ( bongkar pasang ).

Jika masih ada yang anda temui arogan saya pikir kita tidak bisa mengeneralisasi karena itu kembali ke karakter pelayang itu sendiri.